HomeINFORMASIDari Bong Suwung Hingga Keluarga Kraton, De Britto Kenalkan Keberagaman pada Puluhan...

Dari Bong Suwung Hingga Keluarga Kraton, De Britto Kenalkan Keberagaman pada Puluhan Pelajar dari Thailand, Kamboja, Filipina, dan Macau

Published on

spot_img

De Britto International Youth Camp (DIYC) 2024 mengusung tema Holding Hand On Care for Our Common Home. Kegiatan ini akan dilaksanakan dari tanggal 24 hingga 29 April 2024, bertempat di kompleks SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan Laboratorium Alam SMA Kolese De Britto, serta beberapa lokasi wisata budaya edukatif di Yogyakarta, antara lain Kebun Binatang Gembira Loka, Keraton Kesultanan Yogyakarta, dan Candi Prambanan. Kegiatan DIYC akan diikuti oleh para peserta dari berbagai negara, seperti Thailand, Kamboja, Filipina, hingga Macau.

Baca juga Takol, Kongres WUJA, dan Relevansi Komunitas Alumni Kolese Jesuit untuk Bangsa dan Dunia

Humas De Britto International Youth Camp 2024 HJ Sriyanto dalam rilisnya kepada Sinergi Indonesia menerangkan, SMA Kolese De Britto berupaya memfasilitasi pertemuan antara kaum muda dari berbagai negara untuk bertemu, mengembangkan rasa saling menghormati, memahami, dan sekaligus membangun jaringan global. Dengan mengambil tema “Holding Hands on Care for Our Common Home”, para peserta diajak untuk berbagi keprihatinan, memperdalam pemahaman tentang upaya-upaya merawat bumi – rumah kita bersama, dan berjalan bersama dengan mereka yang rentan dan terpinggirkan.

Setiap kolese unik. Keunikan itu layak dikenalkan. (Youtube SMA Kolese de Britto)

Selain itu, melalui kegiatan ini SMA Kolese De Britto ingin mengenalkan budaya Indonesia kepada warga negara global. Melalui serangkaian kegiatan yang dirancang dengan menarik dan menyenangkan, serta edukatif, SMA Kolese De Britto berharap dapat menginspirasi kolaborasi positif yang menciptakan dampak nyata dalam menjaga dan merawat bumi kita, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya kepedulian terhadap sesama manusia.

Rangkaian acara akan diadakan selama lima hari dengan fokus tema masing-masing.  “to know and to mingle” adalah tema di hari pertama yang berfokus kepada pengenalan dan adaptasi para peserta DIYC. Pada hari pertama ini peserta juga akan mengenal dan belajar Bahasa Indonesia.

Didampingi Pater Simon Tama SJ, peserta dari Xavier Jesuit School, Kamboja, tiba di Yogyakarta.(dok. panitia DIYC)

Hari kedua dan ketiga yang bertemakan “to listen & to find” diisi dengan serangkaian kegiatan di berbagai tempat. Bertempat di Kebun Binatang Gembira Loka, peserta akan berdiskusi tentang persoalan konservasi lingkungan dan praktik pengelolaan sampah. Peserta akan dikenalkan dengan batik dan sekaligus praktik membatik di Giriloyo.

Selain itu, mereka akan beraktivitas bersama anak-anak di Pingit dan Bong Suwung. Melalui serangkaian kegiatan tersebut diharapkan peserta mampu menemukan dan membangun kesadaran sosial dan ekologis.

Baca juga Temu Kolese 2023 (1): Tidak Cukup Permukaan, Masuki Kedalaman

Hari keempat bertemakan “to reflect” sebagai kegiatan akhir para peserta di luar kompleks SMA Kolese De Britto. Para peserta diajak untuk berkunjung dan berdialog bersama perwakilan keluarga Keraton Yogyakarta dan dilanjutkan kunjungan ke situs Candi Prambanan. Hari kelima, hari terakhir dan perpisahan dengan tema “to rejoice” yang akan dilaksanakan di Laboratorium Alam SMA Kolese De Britto.

“Dengan adanya De Britto International Youth Camp diharapkan para peserta memiliki semangat pembaruan yang menggelora untuk terus memperjuangkan perubahan positif bagi dunia. SMA Kolese De Britto percaya bahwa melalui kolaborasi dan kerjasama, kita dapat menciptakan perubahan yang berarti dalam masyarakat global,” tulis HJ Sriyanto.(AA Kunto A/Sinergi Indonesia)

 

Latest articles

Bukan Tidak Prospektif, Ini 5 Alasan Pendiri GOTO Undur Diri

Para pendiri startup GOTO, yang terdiri dari tokoh-tokoh penting seperti William Tanuwijaya (Tokopedia), Andre...

Dengan Skema OCI, Eks-WNI di Luar Negeri Bisa Kembali Menjadi WNI dengan Satu Pengecualian

Oleh: VOA Indonesia Isu dwi-kewarganegaraan yang selalu membayangi langkah banyak diaspora Indonesia tampaknya mulai mendapat...

Berasal dari Tiongkok, Soto Berarti Jeroan Dengan Berbagai Jenis Rempah-Rempah

Oleh: Daniel Supriyono Ada yang menyebut soto, Coto ( Makassar), Tauto ( Tauto = Tauco...

Black Box Battle, Ajang Tarung Keputusan dan Kecakapan Executive Chef dan FBM Archipelago International

Oleh: AA Kunto A Anas Harsanto Executive Chef Harper Malioboro Yogyakarta. Dihadapkan pada bahan lamb...

More like this

Bukan Tidak Prospektif, Ini 5 Alasan Pendiri GOTO Undur Diri

Para pendiri startup GOTO, yang terdiri dari tokoh-tokoh penting seperti William Tanuwijaya (Tokopedia), Andre...

Dengan Skema OCI, Eks-WNI di Luar Negeri Bisa Kembali Menjadi WNI dengan Satu Pengecualian

Oleh: VOA Indonesia Isu dwi-kewarganegaraan yang selalu membayangi langkah banyak diaspora Indonesia tampaknya mulai mendapat...

Berasal dari Tiongkok, Soto Berarti Jeroan Dengan Berbagai Jenis Rempah-Rempah

Oleh: Daniel Supriyono Ada yang menyebut soto, Coto ( Makassar), Tauto ( Tauto = Tauco...